News

Tren, Peluang, dan Tantangan Startup SaaS di Indonesia 2020

Industri software as a service (SaaS) di Indonesia kian berkembang dalam beberapa tahun belakangan ini. Dengan penggunaan internet yang terus tumbuh, sektor ini jadi makin mudah diakses konsumen, terutama dari kalangan yang tertarik untuk mencoba mendigitalkan cara lama dalam menjalankan usaha mereka.

Kondisi ini selaras dengan perkembangan secara global yang dilaporkan oleh Market Watch pada awal 2019. Menurut laporan tersebut, pasar produk SaaS seluruh dunia diperkirakan akan tumbuh sekitar 21 persen hingga mencapai US$117 miliar (sekitar Rp1,6 kuadriliun) pada 2022. Potensi ini mencerminkan peluang yang cukup tinggi ke depannya, tak terkecuali di nusantara.

Lantas, bagaimana dengan laju pertumbuhan sektor SaaS di dalam negeri ke depan? Dari pantauan dan wawancara dengan beberapa responden startup di sektor terkait, berikut adalah laporan tren, peluang, dan tantangan startup SaaS Indonesia di 2020 mendatang.

Tantangan: Kompetisi yang makin sengit

Pada Oktober 2019 lalu, laporan dari Bain & Company, Temasek dan Google menyebut Indonesia dan Vietnam punya potensi ekonomi digital paling besar di Asia Tenggara. Dalam laporan tersebut, nilai ekonomi digital Indonesia diprediksi bisa mencapai angka US$130 miliar (sekitar Rp1,8 kuadriliun) pada 2025 nanti.

Di tahun yang sama, Indonesia juga diperkirakan bakal jadi negara pengguna smartphone terbesar ketiga di kancah global dengan estimasi jumlah pemakai mencapai 410 juta orang.

Berkat peluang ekonomi digital dan jumlah populasi pengadopsi internetnya yang demikian besar, Indonesia tak ayal jadi negara tujuan menarik bagi sejumlah perusahaan layanan digital berskala internasional yang hendak berekspansi ke Asia Tenggara. Termasuk pelaku dari sektor SaaS.

Kondisi meningkatnya persaingan di ranah SaaS Indonesia diakui oleh cofounder Qiscus, Evan Purnama. Menurutnya, dengan natur layanan software berbasis internet yang umumnya tak mengenal batas fisik dan wilayah, serta punya metode penjualan yang lebih mudah, kompetisi dalam sektor ini ke depannya bisa makin sengit. Terlebih lagi jika menghadapi kalangan pemain yang berasal dari negara maju seperti Amerika Serikat.

Dalam proses edukasi pasar yang sedang diupayakan, para pemain sektor SaaS dalam negeri juga menghadapi dilema tersendiri. Di satu sisi, mereka sedang mengupayakan edukasi untuk kesiapan pasar dalam mengadopsi layanan. Namun di sisi lain, pasar yang kelak makin matang ini juga akan menjadi sasaran mudah bagi penyedia layanan SaaS asing yang hadir di Indonesia nanti.

Keniscayaan kompetisi dalam sektor SaaS yang bakal makin sengit ini jadi salah satu tantangan bagi para pelaku startup lokal ke depan. Tantangan tersebut tidak hanya perlu diperhatikan di 2020 saja, tetapi juga berpengaruh ke depannya, seiring dengan makin meluasnya tingkat pengadopsian layanan online semacam ini.

Peluang: jumlah UMKM yang besar

UMKM | feature

Dalam beberapa tahun terakhir, “UMKM” jadi kata kunci yang sering digunakan oleh perusahaan teknologi guna memperluas pangsa pasar. Hal tersebut bisa dimaklumi, mengingat UMKM dalam negeri yang pada 2017 lalu diklaim berjumlah lebih dari 62 juta unit punya potensi pasar yang besar, termasuk bagi SaaS.

Apalagi, pelaku UMKM yang belum mengadopsi kemudahan yang ditawarkan layanan SaaS masih berjumlah signifikan, terutama di luar Pulau Jawa. Ambil contoh Paper.id, startup layanan invoicing lokal ini mengklaim baru menggandeng sukses sekitar 100,000 UMKM di Indonesia, dan masih berniat menggandeng jutaan pelaku usaha lain yang bisa terbantu dengan layanan mereka.

Ini berarti masih ada ruang bagi para pemain baru untuk mengisi potensi besar yang dimiliki pasar UMKM, baik melalui penawaran layanan software, ataupun yang benar-benar baru dan belum pernah diperkenalkan sebelumnya.

Tantangan: membaca kebutuhan pasar

Semakin menariknya peluang bagi pasar SaaS untuk berkembang di Indonesia tak lepas dari perkembangan gaya hidup masyarakat yang terus terpapar oleh gerakan digitalisasi, serta pemanfaatan teknologi dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut CEO Paper.id Jeremy Limman, kondisi tersebut muncul karena dorongan beragam layanan di ranah consumer, seperti Tokopedia dan Gojek, yang membuat masyarakat terbiasa menggunakan aplikasi mobile hingga ke ranah personal. Hal ini secara tidak langsung mendorong penggunaan software di ranah bisnis atau target pasar SaaS sendiri.

Layanan SaaS tidak bisa lepas dari keberadaan layanan komputasi awan yang menjadi tulang punggung bagi segala aktivitas pemrosesan data di dalam produknya.

Sejumlah perusahaan teknologi global, seperti Amazon, Microsoft, IBM, dan Google telah berkomitmen untuk membangun pusat data di Indonesia. Bahkan, raksasa teknologi asal Cina, Alibaba, tengah membangun fasilitas pusat data kedua di Indonesia.

Ini artinya, dengan semakin diperhitungkannya negara kita sebagai negara tujuan pasar penyedia layanan komputasi awan, otomatis semakin bersaing pula penawaran harga yang diberikan penyedia layanan ini untuk menarik para pelaku bisnis maupun startup (terutama dari sektor SaaS) di luar sana.

Tren kondisi pasar SaaS yang akan diantisipasi di tahun 2020:

Di luar penjelasan seputar tantangan dan peluang tadi, adapun beberapa tren kondisi di Indonesia yang tahun depan akan menjadi kesempatan menarik bagi startup layanan SaaS di tahun 2020 antara lain:

  • Tren pengadopsian model “platform” ekosistem untuk mengakomodasi kebutuhan yang lebih luas. Di Indonesia, upaya tersebut telah dilakukan pihak Mekari lewat penggabungan unit usaha Talenta, Sleekr, Jurnal dan Klikpajak ke dalam satu entitas layanan guna memudahkan akses konsumen mereka.
  • Dukungan upaya digitalisasi dari pemerintah terhadap para pelaku usaha agar semakin terdorong untuk mengadopsi metode-metode digital dalam pengembangan usaha mereka.
  • Dorongan untuk melakukan upaya kolaborasi dengan pemain lain. Hal tersebut nantinya tidak hanya membantu dari segi bisnis tetapi juga proses edukasi pasar secara keseluruhan agar semakin matang dalam menerima aneka produk jasa SaaS dari berbagai kategori layanan digital.

Sumber : Tech in Asia


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *