News

Tren Kata Kunci Pencarian Google 2019 dan Potensi Bisnisnya di Indonesia

Di penghujung tahun 2019, Google merilis Year in Search 2019 yang merangkum isu dan topik apa saja yang menjadi tren di sepanjang tahun, sekaligus membandingkan perubahannya dengan tahun sebelumnya. 

Dari rilis tersebut, para pelaku bisnis bisa mengambil beberapa informasi menarik yang bisa membantu mereka membaca arah tren di tahun 2020, sehingga bisa menyiapkan strategi bisnis dengan lebih matang dan terarah. Berikut beberapa temuan menarik dari Google Year in Search 2019:

Empat sektor tumbuh secara positif

Google Year in Search 2019 | 1

Google menilai persaingan yang terjadi antara perusahaan teknologi, baik yang lokal maupun regional, memberi dampak positif bagi pasar Indonesia. Ada empat sektor dengan pertumbuhan yang signifikan yang patut untuk diketahui oleh pelaku bisnis:

  • Sektor e-commerce di tahun 2019 memiliki nilai US$20,9 miliar (Rp292 triliun), dan diproyeksikan akan meningkat empat kali lipat di tahun 2025 menjadi US$82 (Rp1.147 triliun) miliar.
  • Sektor online media di tahun 2019 memiliki nilai US$3,5 miliar (Rp48,9 triliun), dan diproyeksikan akan meningkat 2,6 kali lipat di tahun 2025 menjadi US$9 miliar (Rp126 triliun).
  • Sektor transportasi online di tahun 2019 memiliki nilai US$5,7 miliar (Rp79,7 triliun), dan diproyeksikan akan meningkat tiga kali lipat di tahun 2025 menjadi US$18 miliar (Rp251,9 triliun).
  • Sektor online travel di tahun 2019 memiliki nilai US$10,2 miliar (Rp142,7 triliun), dan diproyeksikan akan meningkat 2,5 lipat di tahun 2025 menjadi US$25 miliar (Rp349,8 triliun).

Lima tren nasional teratas di 2019

Google juga menyimpulkan lima tren nasional teratas yang dirasa perlu disimak oleh para pelaku bisnis di Indonesia.

1. Pembayaran digital semakin digemari.

Google melihat pembayaran digital semakin digemari karena dianggap mudah, praktis, dan penuh dengan promosi. Bagi bisnis, tren ini memberi dampak positif karena mempercepat pergerakan konsumen di funnel pembelian.

Di Asia Tenggara, pasar pembayaran digital sudah menembus angka US$22 miliar (Rp307,8 triliun), meningkat lima kali lipa dibanding tahun 2018 lalu. Sementara untuk Indonesia, penelusuran cara bertransaksi digital dan juga dompet digital terbaik meningkat masing-masing 2,9 kali lipat dan 2,7 kali lipat.

2. Pertumbuhan non-metropolitan.

Meski kota metropolitan masih mendominasi lanskap digital Indonesia, namun kota-kota non-metropolitan menyusul dengan cepat. Di tahun 2019, Google memperkirakan seorang konsumen di kawasan non-metropolitan menghabiskan US$103 (Rp1,4 juta) per tahun untuk transaksi online.

Sementara untuk pola berbelanja, konsumen di kota non-metropolitan berbelanja produk dan layanan yang sebelumnya tidak bisa mereka dapatkan. Sementara konsumen di metropolitan mengutamakan kemudahan dan kenyamanan berbelanja, baik digital maupun offline.

3. Konsumsi TV online meningkat.

Konten TV kini dikonsumsi oleh penonton lewat perangkat seperti smartphone ataupun laptop.  Pencarian kata kunci “sinetron” meningkat 1,2 kali lipat dibanding tahun lalu, dan pencarian terkait acara-acara TV tumbuh 2 kali lipat, dengan berita sebagai kategori yang paling banyak diminati

4. Tuntutan konsumen terhadap brand semakin kompleks.

Konsumen semakin memahami kebutuhan seperti apa yang bisa membuat mereka produktif, atau produk apa yang bisa memberikan kenyamanan bagi hidup mereka.

Kata kunci “keyless” misalnya yang mengacu ke kendaraan tanpa kunci, meningkat 1,6 kali dibandig tahun 2018. Sementara pencarian ulasan produk-produk kecantikan terbaik juga tumbuh 1,3 kali lipat.

5. Konsumen lebih peduli isu lingkungan.

Konsumen Indonesia kini membuat keputusan pembelian berdasarkan keinginan untuk menjalani gaya hidup yang ramah lingkungan. Pencarian seperti “sedotan stainless”, “tas daur ulang”, dan “kualitas udara” melonjak secara signifikan. Sementara penelusuran istilah “sustainable” sendiri naik 1,5 kali lipat dibanding tahun sebelumnya.

Media online semakin digemari

Google Year in Search | 5

Berita dan game menjadi pendorong utama di sektor media online di Indonesia. Riset yang dilakukan oleh Google menunjukan bahwa orang Indonesia lebih suka mengikuti berita terbaru lewat video online. Sekitar 75 persen responden menyatakan YouTube adalah media favorit mereka untuk mengkonsumsi berita.

Sementara penelusuran kata kunci “channel berita” di YouTube mengalami peningkatan hingga 2,3 kali lipat dibanding tahun lalu.

Pihak YouTube juga menyatakan ada lebih dari 79 juta penonton unik (unique viewer) dari Indonesia yang mengakses platform mereka setiap bulan. Diperkirakan 95 persen penduduk Indonesia yang telah terpapar internet menggunakan perangkat mereka untuk menonton video online, naik 63 persen jika dibanding tahun 2016 lalu.

Dengan pergeseran perilaku ini, bukan hal yang mengherankan apabila banyak brand yang kini menginvestasikan bujet pemasaran mereka di ranah online, khususnya video.

Salah satu perusahaan yang melakukan itu adalah Indosat. Fahroni Arifin selaku Head of Brand Management & Strategy Indosat mengatakan, sebelumnya mereka mengutamakan iklan offline (OOH dan TV).

Meningkatnya konektivitas berdampak pada minat belanja online

Penetrasi internet yang kian luas membuat pola belanja masyarakat Indonesia terus bergeser ke arah online. Riset Google menyatakan, 88 persen konsumen memulai proses belanja mereka dengan menelusuri produk yang mereka inginkan lewat internet.

Menjelang Harbolnas, ada peningkatan sebesar 1,2 kali lipat untuk penelusuran produk-produk elektronik, fesyen, dan juga kosmetik. Sementara di bulan Ramadan, penelusuran produk busana meningkat sebesar 1,8 kali lipat, pencarian kata kunci “kamera” meningkat 1,3 kali lipat, dan “vacuum cleaner” melonjak hingga empat kali lipat dibanding hari biasa.

Selain dua musim belanja besar tersebut, lonjakan signifikan juga terjadi untuk perayaan hari ulang tahun brand atau promosi di tanggal cantik. Contohnya pencarian kata kunci “9.9” yang meningkat empat kali lipat, dan “12.12” yang melonjak hingga lebih dari 50 kali lipat.

Beberapa temuan menarik soal belanja online lainnya:

  • Penelusuran kata “paylater” meningkat hingga 19 kali lipat, menunjukan ketertarikan konsumen Indonesia untuk membayar tagihan di akhir bulan atau lewat cicilan. Penelusuran ini paling banyak datang dari kawasan Sulawesi Utara dan Kalimantan Tengah.
  • Kata kunci “emas” meningkat sebesar 1,2 kali lipat, dengan pencarian per kapita terbanyak dari daerah Jawa Timur, Jawa Tengah, Papua, dan Nusa Tenggara.
  • Voucher” juga mengalami peningkatan sebesar 2,6 kali lipat. Didorong oleh produk digital seperti “voucher ojek online”, “voucher game”, dan “voucher e-money”.

Sektor pariwisata Indonesia paling potensial di Asia Tenggara

Laporan Google Year in Search 2019 ini juga menyatakan, Indonesia masih menjadi pasar online travel terbesar dengan pertumbuhan paling pesat di Asia Tenggara.

Di tahun 2015, Indonesia memiliki volume pasar sebesar US$5 miliar (Rp69,9 triliun). Angka tersebut melonjak dua kali lipat di tahun 2019 ini dengan nilai US$10 miliar (Rp139 triliun). Google memproyeksikan, sektor ini akan terus tumbuh dan menyentuh US$25 miliar (Rp349,9 triliun) di tahun 2025 nanti.

Google Year in Search 2019 | 3

Beberapa pencarian kata kunci yang berkaitan dengan pariwisata mengalami peningkatan jika dibandingkan tahun lalu. Jumlah pencarian kata kunci “staycation” misalnya, mengalami peningkatan sebanyak 3,4 kali lipat dibanding tahun lalu. Sementara kata kunci “budget hotel” meningkat sebesar 1,6 kali lipat, dan “hotel 4 star” juga naik 1,8 kali lipat.

Laporan ini juga menunjukkan bahwa wisatawan domestik maupun asing kini semakin tertartik dengan aktivitas lokal. Hal ini tergambar dari meningkatnya penggunaan fitur penelusuran “near me” yang meningkat 2,5 kali lipat.

Fitur tersebut biasa digunakan untuk menemukan lokasi foto, tempat wisata, ataupun restoran lokal terdekat.

Sedangkat kata kunci “festival” juga makin kerap digunakan, dengan penelusuran seputar “dieng” dan “music festival” menjadi yang paling banyak dicari.

Sementara untuk destinasi wisata lokal, Pulau Padar dan Pink Beach di Labuan Bajo serta Danau Kakaban dan Gunung Muro di Kalimantan jadi tempat wisata dalam negeri yang banyak ditelusuri di tahun 2019.

Sumber : Tech in Asia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *