News

Tantangan bagi Startup Logistik di Indonesia: Pangkas Inefisiensi Industri

Sebagai negara dengan populasi terbesar di Asia Tenggara dan pertumbuhan ekonomi di kisaran 5 persen per tahun, potensi bisnis logistik Indonesia diproyeksikan bakal terus tumbuh. Riset Indonesia Freight and Logistics Market–Growth, Trends, and Forecast dari Mordor Intelligence memperkirakan pasar logistik di Indonesia bakal bernilai sedikitnya US$150 miliar (sekitar Rp2,05 kuadriliun). 

“Sektor ini akan menjadi magnet bagi bertumbuhnya startup yang menawarkan berbagai inovasi layanan untuk menggarap pasar domestik, yang berkembang seiring makin gencarnya tren perdagangan elektronik (e-commerce),” kata Chief Operating Officer Paxel Zaldy Ilham Masita kepada Tech in Asia. 

Menurutnya, pertumbuhan bisnis e-commerce akan ikut mendongkrak peluang perusahaan logistik untuk menggarap volume pengiriman barang. “Di 2019 ada 2-5 juta paket per hari, tahun ini sekitar 7 juta paket per hari.”

Namun, Zaldy mengakui kehadiran lebih dari dua puluh startup logitech saat ini tidak serta merta mampu menekan inefisiensi operasional. “Biaya logistik masih sekitar 24 persen dari PDB (produk domestik bruto). Sejak 2014 hingga saat ini masih sama,” urainya.

Perlu standardisasi di bidang logistik

“Permasalahan paling besar adalah tidak ada standardisasi logistik di Indonesia,” kata Zaldy. “Negara-negara di Asia Tenggara lain sudah memilikinya. Hal ini membuat penggunaan teknologi di sektor logistik jadi terkendala.”

Beberapa hal yang masih belum memiliki standar dalam sistem logistik nasional tersebut di antaranya:

  • Pola distribusi yang berbeda-beda antarwilayah di Indonesia. Situasi ini membuat kontrol terhadap aspek produksi dan distribusi jadi lemah. Misalnya, barang hasil produksi kota A yang berdekatan dengan konsumen di kota B, harus melalui kota C dulu sesuai dengan alur distribusi produsen.
  • Dwelling time (waktu bongkar muat, pemeriksaan hingga pengiriman barang keluar dari fasilitas transit) lama dengan rata-rata tiga hari akibat dari sarana dan prasarana distribusi pengaturan jenis moda pengangkutan belum optimal.
  • Manajemen dokumen masih manual (paper based system) dalam transaksi logistik.

Tanpa adanya standardisasi, Zaldy merasa teknologi-teknologi baru yang ditawarkan dalam layanan logistik (seperti internet of things (IoT) hingga blockchain) belum bisa dijalankan. “Pemerintah perlu memberi keleluasaan bagi startup logistik untuk melakukan inovasi tanpa terhambat masalah regulasi. Perlu ada sandbox untuk logistik … agar akselerasi ekosistem baru ini bisa cepat,” kata Ketua Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) itu.

Tantangan geografis

Co-Founder & CEO Janio Jun Kai Ng menyatakan posisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan membutuhkan lebih banyak upaya dari pelaku usaha. “Durasi pengiriman yang harus melalui beberapa titik tentu berpengaruh terhadap besarnya biaya selain tingginya risiko kerusakan atau hilangnya paket.

“Banyak penyedia layanan logistik lokal yang memiliki aset dan kapasitas untuk memenuhi permintaan pengiriman lokal hingga ekspor dan impor. Namun tantangannya adalah inefisiensi yang disebabkan masih banyaknya pihak yang terlibat bahkan dalam satu pengiriman,” paparnya. 

Kondisi tersebut tampak dari banyak pemain lama yang masih menjalankan strategi sama, yakni menambah armada pengiriman dan pergudangan untuk meningkatkan jangkauan dan kualitas layanan. Meski mengintegrasikan teknologi pun, usaha yang sudah ada sejauh ini pun belum maksimal, misalnya sebatas implementasi aplikasi untuk memantau pergerakan kiriman (tracking). 

“Yang membedakan, startup menambahkan peran teknologi sebagai jalan untuk menekan langkah yang masih inefisien itu,” lanjut Ng. “Misalnya teknologi optimasi rute untuk memangkas waktu pengiriman hingga ke titik serah barang (last mile), marketplace yang menyediakan layanan dengan harga lebih transparan, hingga teknologi pemetaan untuk meningkatkan akurasi pengiriman.”

Indonesia sebagai negara kepulauan memberi tantangan lebih pada para pelaku sektor logistik

Strategi membangun kemitraan untuk mengembangkan jaringan, melakukan optimasi aset, serta mengintegrasikan ekosistem dengan teknologi diyakini mampu memperluas sinergi antarpemangku kepentingan. 

Menurut Ng, nilai tambah paling besar yang bisa diberikan startup pada industri logistik adalah menyediakan teknologi lalu lintas data yang lebih cepat. Kolaborasi berbasis aplikasi tersebut dapat meningkatkan kinerja pelaku usaha, sekaligus meningkatkan nilai mereka di pasar bisnis logistik nasional dan regional.

Bila kolaborasi itu terjalin, ia optimis pasar logistik Indonesia bisa terus tumbuh, baik dari segi peningkatan produktivitas, hingga peningkatan basis konsumsi seiring pertumbuhan bisnis e-commerce. “Peningkatan kapasitas dibutuhkan untuk melayani kebutuhan konsumen, terutama untuk mendekatkan sumber-sumber produksi dengan konsumen mereka.”

Terjebak peran masing-masing

Dalam pandangan mantan Presiden Direktur FeDex Indonesia Andry Adiwinarso meski kehadiran startup logistik dan bisnis e-commerce bisa mengakselerasi pertumbuhan bisnis, namun masih sulit untuk bisa sekaligus menekan biaya logistik.  

“Rata-rata startup logistik hanya berperan sebagai marketplace atau agregator dengan aplikasi yang mereka tawarkan. Untuk sampai ke last mile (konsumen) yang mengirimkan tetap saja operator logistik,” katanya.

Teknologi yang ditawarkan startup logistik pun masih sebatas mempermudah konsumen untuk memilih operator dengan rentang biaya yang berbeda tipis, hingga tracking barang semata. 

“Mengembangkan armada berbasis teknologi semacam drone atau robot seperti operator logistik atau e-commerce di Cina, ataupun membangun pergudangan, tentu sangat berat investasinya. Untuk sampai ke pelosok tetap saja kiriman dialihkan ke operator logistik konvensional.”

Hal ini membuat perusahaan logistik konvensional tetap nyaman dengan model layanan yang selama ini dijalankan. “Bisnisnya memang berkembang, namun sebenarnya dari sisi layanan sama saja.”

Namun, kehadiran e-commerce dengan volume pengiriman barang yang mencapai jutaan unit per hari membutuhkan akses pengiriman barang yang makin luas. “Ini peluang besar bagi startup logistik yang berperan sebagai marketplace maupun untuk operator logistik existing. Namun, mereka juga harus siap ikut dalam kancah pertarungan promosi bakar uang antar e-commerce.” 

Untuk menekan biaya, alih-alih menambah armada ataupun pergudangan, perusahaan logistik existing memilih cara lain. Misalnya berupaya memperluas layanan dengan menambah kurir lepas yang yang juga harus bersedia untuk menjalankan peran sebagai kolektor dalam skema transaksi bayar di tempat (cash on delivery).  

“Bila siklusnya terus seperti ini, sektor logistik hanya akan bertumbuh secara value bisnis dan menambah jumlah pemain saja, namun berkutat di pola layanan yang sama. Jadi sulit untuk betul-betul memangkas inefisiensinya,” tutupnya.

Sumber : Tech in Asia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *