News

Startup-startup yang Panen Transaksi dan Rugi Akibat Pandemi Corona

Diposkan

Startup e-commerce, kesehatan, pesan-antar makanan hingga video conference panen transaksi. saat pandemi corona. Fintech lending antisipasi kredit macet.

Pandemi corona berpengaruh terhadap perekonomian, pengusaha hingga masyarakat kecil. Operasional beberapa startup pun terganggu akibat pandemi. Namun, ada juga yang transaksinya naik. Salah satu sektor startup yang transaksinya meningkat di tengah pandemi yakni teknologi finansial (fintech) pembayaran. Bahkan, Bank Central Asia (BCA) dan Bank Mandiri menggratiskan layanan isi ulang (top-up) GoPay.

“Gratis biaya top-up saldo GoPay dan diskon 50% pengisian Saldo LinkAja ini semoga menjadi gerakan bersama untuk meminimalkan kontak fisik,” kata Direktur BCA Santoso dalam siaran pers, Kamis (1/4).

Chief Communications Officer (CCO) DANA Chrisma Albandjar pernah menyampaikan, transaksi sempat turun saat pengumuman dua warga terinfeksi virus corona, awal Maret (2/3) lalu. Namun, setelahnya DANA mencatat kenaikan transaksi yang signifikan.

“Tagihan dan pulsa menyumbang signifikan terhadap lebih dari 11% kenaikan transaksi DANA,” kata Chrisma kepada Katadata.co.id, beberapa waktu lalu (6/3). Saat ini, DANA menggaet lebih dari 35 juta pengguna di Indonesia.

Sedangkan SVP Marketing GoPay Timothius Martin memperkirakan transaksinya bakal meningkat terutama layanan kesehatan. “Layanan kesehatan yang ada di aplikasi Gojek, Halodoc dan beberapa mitra kami lainnya kemungkinan ada peningkatan (transaksi),” ujar Timothius di Jakarta.

Layanan startup kesehatan sudah pasti meningkat di tengah pandemi corona. Good Doctor yang masuk ekosistem Grab misalnya, mencatat permintaan tanya jawab meningkat 400% selama sepekan pada pertengahan Maret lalu.

Tanya jawab khusus terkait Covid-19 naik 20x lipat pada Maret dibandingkan Februari. Good Doctor pun menyediakan layanan konsultasi gratis dan cek risiko Covid-19 (telemedik) lewat aplikasi Grab.

Alodokter juga meluncurkan layanan serupa. Dalam sepekan sejak diluncurkan, layanan telemedik itu digunakan 900 ribu orang. Artikel dan video edukasi tentang covid-19 bahkan diakses lebih dari 15 juta kali dalam dua minggu.

Kunjungan ke halaman informasi utama Alodokter juga mencapai 2 juta sejak virus corona mewabah hingga 11 Maret.

Pencarian dengan kata kunci virus corona di Halodoc meningkat 600% sejak virus ini mewabah. Pasca-pengumuman dua warga Depok terinfeksi virus corona, transaksi di platform melonjak dua kali lipat.

Selain itu, Halodoc mencatat permintaan layanan konsultasi meningkat. Karena itu, perusahaan menambah jumlah dokter yang menyediakan layanan 24 jam.

E-commerce juga panen pengguna dan transaksi di tengah pandemi. Selain produk kesehatan dan sembako, Lazada mencatat penjualan camilan, makanan dan minuman siap saji meningkat.

“Kenaikan tidak hanya pada transaksi, tetapi juga jumlah pembuatan akun baru di platform kami,” kata Chief of Customer Experience Lazada Indonesia Ferry Kusnowo kepada Katadata.co.id.

Peningkatan transaksi juga terjadi di platform Tokopedia, terutama produk kesehatan dan bahan pokok. “Produk yang paling banyak dicari seperti masker, cairan antiseptik hingga camilan sehat,” ujar VP of Corporate Communications Tokopedia Nuraini Razak.

Begitu juga di Bukalapak. Sebelum ada pandemi corona, barang elektronik dan peralatan rumah tangga merupakan produk yang paling banyak dibeli. Kini, produk dan alat penunjang kesehatan lah yang paling dicari konsumen.

“Sepanjang Maret, kami mencatat peningkatan double digit (10% lebih) untuk pengguna baru,” ujar Head of Corporate Communications Bukalapak Intan Wibisono.

Selain itu, penggunaan gim dan aplikasi video conference seperti Zoom, Skype, dan lainnya melonjak. Hal ini karena Sebagian besar masyarakat belajar dan bekerja dari rumah alias work form home.

Kendati begitu, beberapa sektor startup terdampak negatif pandemi corona. Permintaan layanan berbagi tumpangan (ride hailing) baik taksi maupun ojek online menurun hingga 80%.

Namun, berdasarkan data Gabungan Aksi Roda (Garda), layanan pesan-antar makanan seperti GrabFood dan GoFood masih meningkat sekitar 20%. Layanan ini lah yang menjadi andalan para pengemudi.

Kemudian, teknologi finansial pembiayaan (fintech lending) mengantisipasi kemungkinan kredit macet melonjak akibat pandemi corona. Sebab, beberapa peminjam mengalami penurunan pendapatan atau bahkan kehilangan pekerjaan.

Ketua Asosiasi Modal Ventura Indonesia (Amvesindo) Jefri Sirait mengatakan, investor memilih untuk menunggu dan melihat (wait and see) sebelum memberikan investasi. Startup yang dinilai mendukung kebijakan pemerintah menekan penyebaran virus corona masih berpotensi diberikan pendanaan.

Startup yang dimaksud seperti di bidang kuliner (food and beverage), kesehatan, logistik, dan telekomunikasi. “Saya pikir ini proses yang me-recover satu sama lain,” kata Jefri kepada Katadata.co.id.

Jefri optimistis bahwa perekonomian, termasuk pendanaan ke startup akan membaik pada kuartal III atau kuartal IV 2019, hingga awal 2021. Untuk bisa bertahan sampai saat itu, perusahaan rintisan yang transaksinya anjlok akibat pandemi harus mendorong efisiensi.

“Perusahaan apapun, saat butuh cash, itu yang harus dia usahakan. Ini akan jadi perhatian pemerintah, modal ventura dan investor,” kata Jefri. 

Sumber : Katadata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *