News

Riset: 6 dari 10 Konsumen di Asia-Pasifik Bakal Tinggalkan Bisnis yang Tak Adopsi Fintech

Pandemi Covid-19 setahun terakhir tampaknya turut mempengaruhi perubahan pada pola konsumsi teknologi keuangan (Fintech) masyarakat dunia. Riset terbaru menunjukkan krisis kesehatan telah memberi jalan meningkatnya adopsi fintech dalam berbagai bentuk. 

Dikutip dari South China Morning Post, Senin (10/5/2021), dalam survei yang dilakukan oleh MasterCard, lembaga penyedia kartu kredit asal Amerika Serikat (AS), konsumen di Asia-Pasifik, termasuk di dalamnya Indonesia, menghadapi tren peningkatan sistem keuangan digital yang signifikan. Seperti penggunaan QR Code, mata uang kripto hingga yang berbasis biometrik. 

Hasilnya, sekitar 6 dari 10 orang menyebut mereka bakal mulai meninggalkan bisnis yang tidak mampu beradaptasi dengan sistem pembayaran digital, ketika pandemi masih terus memburuk. 

Sehingga tidak mengejutkan kalau temuan MasterCard juga mengungkap, sekitar 70 persen dari konsumen di Asia-Pasifik juga lebih tertarik dengan toko yang menyediakan pembayaran digital. 

Sementara itu, 84 persen konsumen di kawasan ini juga mengatakan mereka sudah mengakses layanan pembayaran digital yang lebih luas, ketimbang pengalamannya di tahun lalu. 

Termasuk, lebih dari 90 persen konsumen di Asia-Pasifk, menyebut mereka sedang mempertimbangkan untuk menggunakan salah satu dari teknologi keuangan baru itu di tahun depan. 

“Orang-orang di kawasan Asia-Pasifik tidak hanya mengadopsi teknologi pembayaran baru, mereka telah membuat perubahan yang disengaja yang sebagian berdasarkan kebutuhan, tetapi juga pada pertimbangan seputar keselamatan, keamanan, dan kenyamanan pribadi,” kata Sandeep Malhotra, wakil presiden eksekutif produk dan inovasi di Mastercard Asia-Pasifik.

Dengan resiko penyebaran Covid-19 yang membayangi setiap orang dengan transaksi uang konvensional, pembayaran dengan QR Code juga mendapatkan popularitasnya setahun terakhir. Survei ini juga menemukan sistem pembayaran QR Code juga makin populer di Asia-Pasifik. 

Survei ini dilakukan kepada 15.000 responden yang merupakan konsumen di 18 negara berbeda secara global. Kuesioner disebar secara online pada rentan waktu Februari hingga Maret 2021.

Laporan serupa oleh Mastercard yang dirilis bulan lalu juga mengungkapkan, pembelian yang dilakukan secara online telah melonjak dan menghasilkan tambahan pengeluaran digital sebesar USD 900 miliar di seluruh dunia. 

Raksasa kartu pembayaran tersebut juga memperkirakan sekitar 20 hingga 30 persen dari peralihan ke digital yang disebabkan oleh Covid-19 sudah menjadi permanen. 

“Sementara konsumen terjebak di rumah, dolar mereka menyebar ke mana-mana berkat e-commerce,” kata Bricklin Dwyer, kepala ekonom Mastercard. 

“Ini memiliki implikasi yang signifikan, dengan negara dan perusahaan yang memprioritaskan digital terus menuai keuntungan. Analisis kami menunjukkan bahwa bahkan bisnis terkecil pun melihat keuntungan saat mereka beralih ke digital.” tambahnya.

Sumber : Liputan6

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *