News

Proyeksi Pendanaan Startup Indonesia di 2020 dari 3 Investor Terkemuka

Memasuki penghujung tahun 2019, sejumlah pelaku startup tengah berancang-ancang menyiapkan strategi mengembangkan bisnisnya di tahun depan. Selain melahirkan inovasi produk baru, meningkatkan traksi, merekrut tim, penggalangan dana tentu juga termasuk salah satunya.

Untuk itu, Tech in Asia merangkum pandangan dari tiga investor terkemuka di dunia startup mengenai tren pendanaan startup pada tahun depan. Ketiga investor yang dimaksud antara lain:

  • Eng Seet selaku VP Investment Openspace Ventures,
  • Director of Venture Fund Investments Mandiri Capital Indonesia Joshua Agusta, serta
  • Partner of Venturra Discovery Raditya Pramana.

Mereka sempat membagikan pandangannya dalam diskusi bertajuk “Deep Dive Series: Investment Landscape in Indonesia 2020” yang diadakan oleh Blok71 baru-baru ini.

Pada prinsipnya, ketiga investor ini optimistis mengenai tren pendanan di tahun depan.

Populasi penduduk usia produktif yang mencapai 160 juta jiwa, pertumbuhan internet ekonomi Indonesia yang terus melonjak, disertai dengan pengguna mobile yang terus meningkat menjadikan Indonesia masih menjadi pasar yang menjanjikan bagi startup.

Selain itu, sejumlah perusahaan modal ventura yang memiliki fokus di Asia Tenggara diketahui juga telah selesai melakukan penggalangan dana pada tahun ini. Sebut saja;

  • East Ventures yang menghimpun dana kelolaan keenamnya senilai US$75 juta (sekitar Rp1 triliun) pada Agustus 2019,
  • EV Growth yang menghimpun US$200 juta (sekitar Rp2,8 triliun),
  • Jungle Ventures yang berhasil menghimpun US$240 juta (sekitar Rp3,3 triliun) untuk dana kelolaan ketiga.

Hal tersebut tentu menjamin ketersediaan dana investor untuk disalurkan ke bisnis startup pada tahun depan.

Eng Seet menyatakan, investor pada umumnya melihat iklim investasi startup yang positif akan terus berlanjut. Namun, memetik pelajaran dari  kasus WeWork dan Uber di Amerika Serikat, dia menilai investor akan lebih hati-hati dan selektif dalam memilih model bisnis startup untuk diinvestasikan.

Eng mengatakan, pasar Indonesia masih positif, hanya tinggal bagaimana mengevaluasi peluangnya sebaik mungkin.

Eng menambahkan, tahun ini startup logistik menjadi salah satu vertikal yang cukup banyak mendapatkan investasi. Sejumlah startup logistik yang mendapatkan pendanaan pada tahun ini antara lain Waresix, Triplogic, Allsome Fullfillment, Ritase. Sementara pada tahun depan, ia melihat tren pendanaan akan terus berlanjut di vertikal favorit investor seperti fintech, agritech, healthtech.

“Di Amerika Serikat, startup berlomba-lomba untuk fokus pada deep tech, sementara di sini startup ditutut untuk dapat menyelesaikan masalah-masalah tradisional dalam kehidupan masyarakat sehari-hari,” ungkapnya.

Dari segi pendanaan, Open Space Ventures biasa mengucurkan investasi senilai US$3 juta hingga US$5 juta (sekitar Rp42 hingga Rp70 miliar) untuk tahap awal. Eng menilai tahap seed menjadi paling tricky dan memiliki risiko terbesar bagi investor, mengingat biasanya pada tahap tersebut startup belum dapat menunjukan traksi penggunanya.

Nilai pendanaan Series B diprediksi meningkat

Credit by Unsplash

Joshua Agusta menyatakan, setiap perusahaan modal ventura memiliki seleranya masing-masing dalam hal berinvestasi. Adapun untuk tahun depan, dia memproyeksikan nilai pendanaan Series B ke atas akan mengalami peningkatan.

Tentang wacana IPO (Initial Public Offering) yang diungkapkan oleh sejumlah unikorn, Joshua meragukan aksi korporasi tersebut akan terjadi tahun depan. Ia juga menyangsikan Bursa Efek Indonesia dapat menjadi pasar modal yang tepat bagi perusahaan teknologi mengumpulkan modal.

Menurutnya, pasar modal di Amerika Serikat seperti New York Stock Exchange ataupun Nasdaq lebih potensial, karena memiliki kapitalisasi pasar yang lebih besar. Juga memiliki ekosistem yang lebih matang dan  berpengalaman untuk perusahaan teknologi dibandingkan pasar modal dalam negeri.

“Kita lihat kemarin fintech Kredivo baru saja mendapatkan pendanaan yang cukup besar untuk regional ini. Jadi saya pikir uang yang tersedia untuk tahap ini [Seri B] sangat banyak, bisa miliaran dollar,” ungkap Joshua.

Raditya Pramana memiliki pandangan yang berbeda. Dia melihat meningkatnya antusiasme perusahaan teknologi di Amerika Serikat untuk IPO menandakan konsensus global ke arah yang lebih menantang pada tahun depan.

Sentimen publik yang positif terhadap perusahaan teknologi di tahun ini dinilai menjadi faktor pendorong utama fenomena tersebut. Meski rencana IPO tak selamanya berjalan mulus. Raditya menyakini akan adanya koreksi dalam valuasi startup dalam beberapa tahun mendatang.

“Kita akan melihat koreksi dalam setahun-dua tahun mendatang. Sekarang adalah saat yang tepat untuk para pendiri startup membangun fondasi yang kuat dan menggalang dana lebih besar untuk persiapan beberapa tahun mendatang,” ujarnya.

Sebagai gambaran, Venturra Discovery dibentuk sekitar setahun lalu sebagai anak usaha Venturra Capital.

VC ini khusus mendanai pendanaan tahap awal (seeds funding) untuk startup di Asia TenggaraPada setiap kesepakatan, pihaknya biasa mengucurkan dana senilai US$200 ribu hingga US$500 ribu (sekitar Rp2,8 hingga Rp7 miliar).

Sumber : Tech in Asia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *