News

Potensi Startup Proptech di Indonesia dan Peran Asosiasi Properti

Bila dibandingkan dengan agritech, healthtech, atau smart logistic, teknologi properti (proptech) relatif kurang ramai dibicarakan oleh para pelaku startup/investor. Padahal, sektor properti di Indonesia menyimpan sejuta potensi dan masalah yang dapat diselesaikan melalui teknologi.

Laporan dari Jones Lang LaSalle menyebut 179 startup di Asia Pasifik memperoleh investasi mencapai US$4,8 miliar (sekitar Rp67 triliun) atau lebih dari 60 persen dari total investasi proptech di dunia selama 2013 hingga 2017. Dari angka tersebut, Cina dan Hong Kong menyerap US$3 miliar (Rp42 triliun) di antaranya.

Angka investasi tersebut kini bukan lagi menjadi fenomena yang luar biasa, terutama di negara berkembang dengan populasi besar seperti Indonesia. Negeri ini merupakan pasar yang menjanjikan bagi industri properti.

Meski industri properti nasional mengalami perlambatan dalam tiga tahun terakhir sebagaimana yang juga dialami oleh sebagian negara di Asia, tetapi potensi bisnisnya dinilai masih cukup besar. Terlebih bila mengingat pertumbuhan ekonomi yang masih positif, dan didukung dengan jumlah populasi generasi produktif dan kelas menengah Indonesia memiliki daya beli dan kebutuhan terhadap hunian.

Perkembangan proptech di dalam negeri

Pembentukan asosiasi tersebut diharapkan dapat menjadi wadah yang memfasilitasi para pelaku startup proptech dengan para pengembang properti terkemuka nasional, dan membantu produk serta solusi teknologinya untuk sesuai dengan kebutuhan pasar saat ini.

Lawin menyebut saat ini terdapat puluhan startup proptech yang tergabung dalam asosiasinya, dan kebanyakan masih di tahap awal. Dengan koneksi asosiasi yang berada di Asia, ia berencana mengembangkan sejumlah inisiatif yang tersebut akan dirilis bersamaan dengan kepengurusan Indonesia Proptech Association pada Februari 2020 mendatang.

“Kita butuh satu wadah yang bisa mengumpulkan semua potensi startup, terutama di bidang proptech, agar bisa nyambung dengan sektor real estate,” ujar Lawin. Menurutnya, startup teknologi properti di Tanah Air tengah memasuki fase ketiga perkembangannya. Ketiga fase tersebut antara lain:

  • Sinkronisasi database penjual dan pembeli, ditandai dengan lahirnya berbagai marketplace di bidang properti. Fase pertama ini telah dimulai sekitar satu dekade lalu di Indonesia. Jumlah marketplace properti kini telah cukup banyak sehingga sulit untuk memberikan ruang bagi pemain baru.
  • Penggunaan teknologi virtual reality ataupun augmented reality. Kedua teknologi ini lazim digunakan sebagai bagian dari pemasaran properti yang membantu calon pembeli melihat properti dari jauh sebelum mendatangi langsung.
  • Penggunaan teknologi, seperti drone dalam proses pembangunan dan penerapan smart house dengan kecerdasan buatan dan internet of things. Pada tahap ini diprediksi akan bermunculan startup proptech yang model bisnisnya fokus membantu konsumen dalam proses pembangunan rumah secara swadaya.

Pihaknya juga tengah menggagas sejumlah inisiatif untuk mendorong perkembangan proptech. Beberapa di antaranya:

  • Menginisiasi pembentukan perusahaan modal ventura yang terdiri dari konsorsium para pengembang properti,
  • Menggagas pembentukan startup yang bergerak di bidang pembiayaan perumahan yang murah melalui skema crowdfunding, hingga
  • Membangun digital hub untuk inkubasi startup proptech.

Kolaborasi dengan pengembang properti

Penandatangan MOU antara Indonesia Proptech Association dengan CEO Asia Proptech Leo Lo dan Chairman Singapore Proptech Association William Lai disaksikan oleh Tokoh Teknologi Nasional Ilham A.Habibie (Dok. Asosiasi Teknologi Properti Indonesia)

Menurutnya, terdapat dua macam pengguna startup proptech, yang terdiri dari konsumen masyarakat umum, dan pengembang properti. Saat ini, ia menilai pengembang properti seperti Sinar Mas Land dan Ciputra Group sudah cukup terbuka terhadap teknologi dan membuka kemungkinan untuk kolaborasi maupun memberikan pendanaan untuk startup.

“Tantangannya lebih kepada sosialisasi untuk mengenalkan kepada user. Saat ini developer sudah membuka diri, tetapi konsumen belum begitu advanced karena butuh knowledge sendiri untuk memahami teknologi,” kata Lawin. “Namun kita harus sudah bergerak ke sana karena sepuluh tahun lagi generasi mudalah yang akan menjadi pasar terbesar bagi industri properti.”

Sumber : Tech in Asia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *