News

Normal Baru, Layanan Pesan Antar Perusahaan Digital Bersaing Ketat

Diposkan

Tren layanan pesan antar makanan (food delivery) saat fase normal baru (new normal) diramal bakal semakin kompetitif ke depan. Pasalnya, fitur layanan tersebut tak hanya tersedia melalui aplikasi besutan Gojek dan Grab saja, tetapi juga perusahaan mulai diikuti perusahaan digital lain.

Beberapa perusahaan teknologi digital seperti Google, Instagram, Shopee, Tokopedia, hingga DANA mulai ikut menyediakan layanan serupa.

Ketua Asosiasi Modal Ventura Untuk Startup Indonesia (Amvesindo) Jefri R Sirait mengatakan, era new normal akan mendorong semua perusahaan untuk berinovasi dan mempertahankan bisnisnya.

“Sehingga, tren (food delivery) bisa menjadi equal environment dalam berkompetisi. Karena secara prinsip, masyarakat yang terdampak pandemi corona telah mengalami perubahan perilaku,” ujar Jefri kepada katadata.co.id, Rabu (3/6). 

Seiring perubahan perilaku tersebut, pelaku usaha di industri ini pun harus mampu berinovasi dan mendiversifikasi usahanya dengan baik. Hal ini tentunya dilakukan agar bisnis serta ekosistem di dalamnya mampu bertahan di tengah pandemi ini.

Apalagi, pemerintah juga akan berkontribusi dalam pemulihan ekonomi negara ke depannya. “Sebagai stakeholder, kita juga harus mendukungnya (pemulihan ekonomi),” ujar dia. 

Senada dengan Jefri, CEO MDI Ventures Donald Wihardja mengatakan bahwa tren food delivery semakin meningkat di masa pandemi ini. Begitu pula hingga era new normal nanti. Perusahaan pun mengamati, bahwa telah terjadi adopsi cepat di layanan pesan antar baik pada bisnis makanan minuman, restoran, kafe, dan sebagainya.

Menurutnya, saat ini ada banyak restoran sekarang yang sudah beradaptasi dan fokus melayani pemesanan online. Padahal, sebelum terjadi pandemi, dari 100 pesanan yang dilayani, 95 orang diasumsikan lebih memilih makan di tempat sedangkan hanya 5 dilayani melalui layanan GoFood atau GrabFood.

Namun dengan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) saat ini, tidak ada konsumen yang bisa makan di tempat. Sedangkan 30-40 orang lainnya, memilih untuk dilayani lewat layanan on demand.

Dengan kenaikan permintaan ini, menurut dia, tentunya banyak restoran yang mempertanyakan tentang nilai (rate) dari layanan seperti GoFood atau GrabFood.

“Akibatnya banyak startup lain menawarkan alternatif, baik sebagai cara mengambil order lain, ataupun cara mengantar, atau dua-duanya,” ujar Donald kepada katadata.co.id, Rabu (3/6). 

Meski demikian, setiap layana maupun masinng-masing platfrom memiliki keunggulan tersendiri. “Dari kami, tren  ini menciptakan kompetisi yang bagus dan kita baru akan tahu siapa yang bisa menang di masa depan,” ujar Donald.

Selain Gojek dan Grab, startup teknologi finansial (fintech) pembayaran DANA telah  meluncurkan fitur belanja kebutuhan barang, makanan, dan minuman home shopping  pada ramadan lalu. Pandemi corona ikut menyebabkan pengguna DANA melonjak. 

Layanan home shopping dibuat untuk memfasilitasi pengguna agar bisa berbelanja kebutuhan ramadan dan lebaran di tengah pandemi corona. 

Pengguna bisa berbelanja barang, makanan atau minuman di mitra (merchant) DANA melalui aplikasi. Lalu membayar pesanan dengan memindai kode Quick Respons (QR Code). Baru kemudian, pesanan diantarkan merchant ke alamat konsumen. 

Tak mau ketinggalan, Instagram pun merilis stiker ‘Dukung UKM’ untuk membantu Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Pemilik akun bisnis bisa menggunakan stiker ini untuk berjualan. Nantinya, akan ada Instagram Stories bersama yang terhubung dengan unggahan yang memakai stiker ini.

Perusahaan di bawah naungan Facebook itu juga menambahkan tools Sumber Informasi Bisnis pada profil bisnis. Tak hanya itu, Instagram menyediakan stiker ‘Pesanan Makananan’ melalui Instagram Stories bersama. Layanan ini bukan menjadi pesaing Gojek dan Grab, tetapi justru mendukung.

Berikutnya, ada Google yang mengembangkan fitur baru pada Google Maps akibat pandemi virus corona. Layanan baru itu memungkinkan pengguna memesan makanan, lalu mengambilnya langsung ke restoran atau lewat jasa pengiriman.

Shopee juga merilis inisiatif Shopee Food, yang memuat beragam produk mulai dari makanan berat hingga jajanan dari berbagai restoran, serta UMKM. Selain itu, tersedia bahan masakan seperti sayuran, daging, dan makanan beku.

Tokopedia juga digandeng Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) serta Kementerian Perindustrian untuk menjual produk kopi. Penjual kopi literan seperti Tuku, Maxx Coffee, Roempi Coffee, Kopitagram, Anomali Coffee, Titik Temu Coffee, dan lainnya pun berdagang di e-commerce ini.

Riset Nielsen Singapura pada 2019 menunjukkan, sekitar 58% masyarakat Indonesia membeli makanan siap santap (fast food) melalui aplikasi secara online melalui smartphone.

Sumber : Katadata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *