News

Layanan Telemedicine Diprediksi Tetap Berkibar Usai Pandemi Berakhir

Layanan aplikasi kesehatan (healtech) dan telemedicine diprediksi semakin diminati pengguna meski virus corona nantinya mereda. Ini lantaran adanya perubahan kebiasaan pengguna fitur dampak dari pandemi.

Asosiasi Modal Ventura Untuk Startup Indonesia (Amvesindo) juga mencatat bahwa kunjungan aplikasi kesehatan di Indonesia melonjak hingga 15 kali lipat.

“Kami tidak akan kembali ke masa lalu,” ujar Ketua Kompartemen Healtech Amvesindo sekaligus Ketua Asosiasi Healthtech Indonesia (AHI) Gregorius Bimantoro kepada Katadata.co.id, Selasa (25/8). 

Menurut Bima, telemedicine semakin diminati pengguna karena mampu memudahkan tenaga medis maupun pengguna yang membutuhkan layanan kesehatan  selama pandemi. Alhasil, pengguna mereka akhirnya terbiasa menggunakan layanan ini dalam keseharian mereka.

Para pengguna bisa memanfaatkan layanan konsultasi online dengan dokter, menebus resep obat, hingga membuat janji dengan dokter maupun rumah sakit hanya lewat satu aplikasi. Pengguna pun bisa mengakses berbagai artikel terkait seputar penyakit dan cara menghindarinya.

Peningkatan signifikan terjadi pada aplikasi telemedicine yakni Halodoc. Mereka mencatat peningkatan pengguna aktif bulanan 10 kali lipat sejak pandemi merebak, jika dibandingkan dengan kuartal IV 2019.

Selain itu, rata-rata transaksi pada Maret lalu juga meningkat dua kali lipat apabila dibandingkan Januari sampai Februari 2020. Mereka menyatakan pandemi banyak mengubah kebiasaan konsumen mengakses layanan kesehatan.

“Kami percaya bahwa layanan ini akan terus mendapatkan momentum yang positif, bahkan pasca pandemi Covid-19,” ujar Chief Marketing Officer Halodoc Dionisius Nathaniel.

Managing Director Good Doctor Technology Indonesia Danu Wicaksana mengatakan, kunjungan layanan di fitur Grab Health tercatat naik 12 kali lipat dibandingkan sebelum pandemi corona. Sedangkan, fitur konsultasi dengan dokter juga melonjak sampai 17 kali lipat.

“Layanan kesehatan menggunakan teknologi akan menjadi complementary terhadap layanan offline yang sudah ada seperti rumah sakit, klinik, laboratorium dan apotik,” ujar Danu.

Danu mengatakan, Good Doctor Indonesia juga memiliki banyak mitra di berbagai fasilitas kesehatan daerah. Menurut dia, salah satu keunggulan dari layanan healtech yakni dapat menjangkau masyarakat di daerah yang memiliki keterbatasan akses medis.

“Layanan healtech bisa menjadi tingkat penanganan pertama sebelum nantinya dirujuk ke fasilitas kesehatan terdekat,” ujar Danu. 

Sebelumnya, Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate  menilai bahwa telemedicine sebagai layanan kesehatan jarak jauh memungkinkan pasien dan tenaga kesehatan berdiskusi tanpa harus bertatap muka.

Banyaknya masyarakat yang beralih disebabkan fungsi layanan tersebut mampu menawarkan layanan konsultasi medis secara online. Ini menjadi salah satu indikator bahwa pandemi Covid-19 adalah faktor yang mempercepat transformasi digital.

“Data menunjukkan bahwa 44% responden menyatakan bahwa mereka beralih dari konsultasi tatap muka ke konsultasi daring, berdasarkan data McKinsey pada 2020,” ujar Johnny.

Sumber : Katadata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *