News

Laba Investor Grab & Tokopedia Ini Ambles 99%, Bakar Uang?

Jakarta, CNBC Indonesia – SoftBank Group, investor Tokopedia dan Grab, melaporkan laba kuartal II untuk tahun fiskal 2020 anjlok parah setelah anak usaha unit investasinya Vision Fund mencatatkan kerugian US$100 miliar atau setara Rp 1.400 triliun.

Sepanjang Oktober-Desember 2019, Vision Fund mencatatkan rugi operasional 225 miliar yen atau setara US$2,05 miliar padahal periode yang sama tahun sebelumnya masih mencatatkan laba 176 miliar yen.

Gara-gara kerugian ini laba operasional SoftBank anjlok parah dari 438 miliar yen pada 2019 menjadi 2,6 miliar yen atau turun dalam 99,41%. Kinerja keuangan ini jauh dari prediksi analis yang memperkirakan SoftBank meraup laba 345 miliar yen, seperti dilansir dari Reuters, Rabu (12/2/2020).

Pengumuman ini diyakini meningkatkan kekhawatiran akan kemampuan pendiri SoftBank, Masayoshi Son mendapatkan pendanaan untuk Vision Fund 2 dan memberikan lebih banyak amunisi bagai investor aktivis Elliot Management yang baru-baru ini menjadi pemegang saham perusahaan.

Kerugian yang diderita Vision Fund juga menimbulkan pertanyaan pada strategi Masayoshi Son yang sering menyuntikkan dana jumbo ke startup yang bisnisnya belum teruji.

Namun Masayoshi Son tetap tenang menghadapi masalah ini. Menurutnya saat ini SoftBank sudah berbalik di jalur yang benar, mengkaitkannya dengan reli harga saham beberapa perusahaan yang dimiliki Vision Fund dan pemberitaan soal tak dilarangnya merger perusahaan internet Sprint Corp dan T-Mobile Inc.

“Gelombangnya sedang berbalik,” ujarnya setelah rilis kinerja keuangan SoftBank.

Vision Fund didukung oleh Arab Saudi dan telah mengubah wajah investasi di sektor teknologi. Vision Fund sudah menginvestasikan US$76,6 miliar dari US$100 miliar yang dikumpulkan, ke 88 perusahaan. Investasi tersebut kini bernilai US$ 79,8 miliar.

Pada kuartal Agustus-September 2019, Vision Fund mencatatkan kerugian US$ 8,9 miliar salah satunya karena turunnya nilai investasi startup andalannya seperti WeWork, startup co-working space yang batal IPO karena masalah tata kelola.

Sumber : CNBC Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *