News

Kondisi dan Kebutuhan Ekosistem Startup di Luar Jakarta

Sebagai ibu kota negara, Jakarta selama ini menjadi pusat pemerintahan dan pusat perekonomian. Tak terkecuali bagi aktivitas ekonomi digital dan ekosistem startup. Sejauh ini, Jakarta masih menjadi barometer kegiatan para pelaku startup dalam negeri.

Dengan populasi penduduk mencapai 10,5 juta jiwa dan dikelilingi dengan kota satelit lainnya yang juga padat penduduk, Jakarta memang menjadi pasar yang menjanjikan. Banyak bisnis startup yang kini populer digunakan, seperti ride-hailing, pesan-antar makanan, e-commerce, lahir terlebih dahulu di Ibu Kota sebelum merambah ke kota lain.

Data Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia (MIKTI) per Mei 2019 menyebutkan, dari 1.009 startup yang ada di Tanah Air, 52,7 persen di antaranya berada di Jabodetabek. Daerah-daerah lain mengikuti, dengan Jawa Tengah dan DIY sebanyak 86 startup, Jawa Barat 98 startup, dan Jawa Timur 99 startup.

Sementara, jumlah startup yang berada luar di Pulau Jawa relatif lebih sedikit. MIKTI mencatat Bali & Nusa Tenggara Barat memiliki 50 startup, Kalimantan 17 startup, Sulawesi 26 startup, Sumatera 75 startup, dan sisanya tidak diketahui asal domisilinya.

Google, Temasek & Bain Company dalam laporan bertajuk e-Conomy SEA 2019 menyoroti besarnya peluang perkembangan bisnis startup di luar kota metropolitan. Pertumbuhan ekonomi internet di luar kota metropolitan diproyeksikan tumbuh empat kali lipat hingga 2025, atau dua kali lipat lebih tinggi ketimbang area metropolitan.
Menurut laporan tersebut, ketidakmerataan ekosistem startup juga disebut turut menyumbang kesenjangan besarnya belanja per kapita masyarakat dalam ekonomi internet. Sebagai perbandingan, selisih belanja per kapita ekonomi internet antara kota metropolitan di Malaysia dan Thailand dengan kota nonmetropolitan di negara tersebut mencapai 3-4 kali lipat. Sementara di Indonesia, Vietnam, dan Filipina, selisihnya bahkan mencapai lima kali lipat.

 Peran swasta dalam membangun ekosistem startup

Telkom Digital Lounge

Rido Ade Putra selaku Co-Founder dari Qrungu, startup media sosial berbasis suara asal Pekanbaru, menyatakan ekosistem startup di kota itu masih jauh tertinggal dibanding Jakarta. Menurut pengakuannya, perusahaan swasta seperti Telkom melalui program Digital Innovation Lounge (DILO) turut mengambil peran membangun ekosistem startup.

“Di Riau awal tahun kemarin, Pekanbaru termasuk yang terbanyak dan teraktif memiliki startup dibandingkan dua tahun ke belakang. Inkubator bisa dihitung jari. Event startup ada oleh komunitas, tapi biasanya masih sebatas kami (pemain lokal) yang menjadi pembicaranya,” ujarnya.

Rido menambahkan, dalam hal ini keberadaan komunitas startup menjadi sangat penting untuk membuka akses informasi dan menjadi wadah berbagi antar para pelaku startup. Menurutnya, di komunitas startup Pekanbaru kini terdapat setidaknya enam puluh perusahaan teknologi rintisan dari vertikal yang cukup variatif, mencakup kesehatan, pendidikan, gim, media sosial, katering daring, dll.

Lebih jauh, ia mengaku usahanya untuk mencari informasi memang dituntut lebih besar. Tak dapat mengandalkan ekosistem startup di Pekanbaru, beberapa kali Rido pun menyambangi Jakarta untuk mengikuti kegiatan startup untuk membangun relasi dan akses yang diperlukan.

Usaha pemerintah mengembangkan ekosistem

Ketua Umum Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia (MIKTI) Joddy Hernady menyatakan pada tahun ini pihaknya dan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) memulai inisiatif untuk membawa kota-kota di Indonesia masuk ke jaringan ekosistem startup global melalui program Accelerating Indonesia to Global Startup System.

Selain itu, pihaknya juga merencanakan kajian Indeks Kota Startup Indonesia, yaitu kajian indeks yang menunjukkan level kesiapan kota-kota di Indonesia sebagai ekosistem yang mendukung pertumbuhan startup digital.

“Di luar Jakarta, kota lainnya seperti Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Makassar, khususnya kota yang berdekatan dengan universitas IT (informasi teknologi), memiliki potensi menjadi sumber talenta digital kita,” ungkapnya.

Ia menilai, pemerataan infrastruktur dan sumber daya manusia di bidang IT menjadi salah satu tantangan yang dihadapi dalam meningkatkan skala ekosistem perusahaan rintisan di Indonesia. Oleh karena itu, pihaknya berencana mengadakan pelatihan baik secara langsung maupun melalui platform online untuk meningkatkan daya saing talenta digital Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *