News

Kisah di Balik Startup Gulung Tikar: Bubar karena Konflik para Co-founder

Kegagalan dalam berbisnis adalah hal biasa, apalagi bagi suatu startup yang baru dirintis. Namun, apa jadinya bila kegagalan itu menimpa sebuah startup yang pernah dipandang banyak pihak akan menjelma menjadi besar?

Adam (bukan nama sebenarnya), mantan co-founder dari suatu startup, berbagi kisah kegagalan hingga pelajaran yang ia dapatkan dari bisnis sebelumnya kepada Tech in Asia. Atas permintaan narasumber, kami tidak mengungkap nama startup yang pernah ia bangun.

“Sebenarnya apa yang kurang dari startup kami? Kami dianggap pionir karena produk yang kita kelola sudah sangat spesifik dengan pasar dalam negeri,” kenang Adam. ”Karena menggarap sektor yang sangat populis, kita juga mendapat support dari pasar, pemerintah daerah, instansi terkait, hingga media.”

Pun dukungan pendanaan dari berbagai perusahaan modal ventura sudah ia dapatkan, serta berpotensi membesar. Ia bahkan mengaku startup yang didirikannya pernah mendapatkan tawaran untuk diakuisisi.

  1. Terpaan sederet masalah
    Meski telah mendapat beragam dukungan, startup Adam tak kunjung mencapai potensi terbesarnya. Ia merinci beberapa masalah yang dihadapi perusahaannya. Masalah-masalah tersebut tidak tertangani dengan baik, bahkan akhirnya justru membuat usahanya terpaksa harus gulung tikar.
  2. Tim tidak kompak
    Di antara beragam kendala yang dihadapinya, Adam mengaku faktor utama yang ia pernah hadapi adalah perbedaan visi dengan sesama pendiri (co-founder). Titik nadir ketidakselarasan itu muncul beberapa tahun setelah perusahaan berdiri.
    Hal itu pun berdampak pada munculnya friksi yang semakin tajam setelah adanya dua kubu dalam perusahaan yang masing-masing menginduk pada salah satu co-founder. Akibatnya, dalam waktu hanya dua bulan, terjadi kekacauan pada perusahaan. “Sampai kita tidak bisa lagi bertransaksi dengan merchant.”

Sang rekan bahkan meminta modal awal saat mereka bootstrapping dikembalikan, beserta hitungan pembagian keuntungan dan aset perusahaan. Ditambah lagi dengan tidak boleh dipergunakannya nama dan logo perusahaan yang memang berasal dari usulannya. “Itu artinya perusahaan harus bubar, karena kami mendirikan bersama. Saya tidak punya pilihan.”

3. Empat pelajaran yang bisa dipetik
Berkaca dari kegagalan tersebut Adam mengaku mendapat pengalaman berharga untuk tidak kembali mengulang kesalahan yang sama. Menurutnya setidaknya ada empat pelajaran yang ia petik:

  • Komposisi tim beragam dengan struktur terbuka. “Kita harus mempersiapkan tim yang beragam dengan keahlian yang berbeda. Ini penting, karena bila startup hanya terdiri dari divisi yang didasari oleh kompetensi para founder, akan banyak masalah yang tidak tertangani karena memang di luar keahlian,” ujar Adam.
  • Pembagian posisi dan kontribusi yang jelas. “Para founder hendaknya mengantisipasi potensi masalah yang akan muncul dalam perkembangan perusahaan. Hal ini terkait dengan posisi dan kontribusi dari masing-masing founder harus jelas diatur oleh perjanjian hitam di atas putih.”
    -Proyeksi kebutuhan pendanaan yang terukur. “Founder harus mampu menghitung kebutuhan pendanaan secara terukur. Kucuran investasi yang jauh di atas kebutuhan perusahaan justru akan menjadi jebakan yang akan membuat manajemen terlena.”
  • Optimalkan kemampuan organik. “Tim marketing organik yang kuat adalah salah satu fondasi kesuksesan startup. Janji dari berbagai pihak untuk membantu promosi bisa menjadi jebakan yang membuat kita overconfident (percaya diri berlebihan) terhadap popularitas dari platform yang kita miliki.”

    4. Takkan berhenti dan mati
    Meski telah mengalami hal pahit, Adam mengaku tidak kapok untuk kembali membangun startup. Namun ia mengaku tengah berkonsentrasi untuk mencari solusi penyelesaian kewajiban perusahaan setelah usahanya kolaps. Mulai dari pengembalian investasi, bayar utang-utang kepada mitra, hingga membagi aset dengan co-founder.

Sumber : Tech in Asia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *