News

Deretan Negara yang Gunakan Data Lokasi untuk Lacak Penyebaran Corona

Diposkan

Negara-negara yang terdampak virus corona memiliki caranya sendiri untuk mengendalikan penyebaran virus tersebut. Termasuk menggunakan data lokasi dari GPS ponsel untuk melacak penyebaran virus corona.

Tentu metode ini memiliki pro dan kontra karena menyangkut masalah privasi. Efektivitas metode ini dalam melacak penyebaran COVID-19 juga berbeda di tiap negara.
Cakupan pengawasan dan pelacakan ini berbeda-beda di tiap negara, tergantung dari aturan perlindungan data dan privasi di negara tersebut. Misalnya di negara Uni Eropa di mana ada aturan GDPR yang membatasi penggunaan data pribadi pengguna.

Dikutip detikINET dari The Verge, Kamis (26/3/2020) operator telekomunikasi di Uni Eropa saat ini berbagi data dengan otoritas kesehatan Italia, Jerman dan Austria untuk mengawasi apakah publik menuruti instruksi social distancing atau tidak.

Pengawasan ini mulai memperlihatkan hasil. Di kawasan Lombardy, Italia yang mengalami lockdown terjadi penurunan pergerakan publik hingga 60% pada bulan lalu.

Lain ceritanya dengan Israel yang menggunakan data lokasi dari ponsel untuk melacak penyebaran virus corona sejak 16 Maret lalu. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memerintahkan pemerintah federal untuk melacak pasien yang positif terinfeksi virus corona dan untuk menentukan siapa yang harus melakukan karantina.

Negara-negara lainnya juga memiliki caranya sendiri, seperti Iran yang menggunakan aplikasi AC 19 untuk melacak penyebaran COVID-19. China juga memiliki sistem pelacakan yang bisa mengirimkan informasi kepada penegak hukum.
Sementara Taiwan memiliki sistem yang disebut pagar elektronik yang akan memberitahu pihak berwajib jika seseorang yang sedang dikarantina bepergian terlalu jauh dari rumahnya.

Tapi, sistem yang paling ekstrem diterapkan oleh pemerintah Korea Selatan. Mereka membuat peta yang berisi data lokasi dari ponsel yang bisa dilihat publik untuk menentukan apakah mereka telah melakukan kontak dengan orang yang positif terinfeksi virus corona.

Otoritas kesehatan Korea Selatan juga mengirimkan SMS yang isinya beragam, mulai dari pengingat untuk rajin mencuci tangan hingga informasi spesifik tentang orang yang telah teruji positif dan lokasinya.

Salah satu isi SMS tersebut berisi usia dan gender seseorang yang baru teruji positif COVID-19 beserta link yang mengarah ke daftar lokasi mana saja yang baru ia kunjungi sebelum dirawat di rumah sakit.

Sementara itu Amerika Serikat juga sepertinya sudah memikirkan langkah tersebut. Baru-baru ini pemerintah AS mengumumkan telah berdiskusi dengan perusahaan seperti Google dan Facebook untuk melacak penyebaran virus corona menggunakan data lokasi.

Sumber : Detik Tekno

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *