News

Dampak Kehadiran Facebook Bagi Kehidupan Sosial dan Ekonomi di Indonesia

Facebook telah menjadi bagian penting dalam kehidupan banyak orang saat ini. Tapi seberapa jauh sosial media dengan basis pengguna yang besar tersebut berdampak pada kehidupan sosial ekonomi di Indonesia.

PwC bekerja sama dengan Institute of Development Economics and Finance (INDEF) kemudian melakukan riset pada Juni hingga Agustus 2019 untuk mencari tahu. Apakah Facebook benar-benar memberi andil yang positif atau malah sebaliknya. 

Riset ini dilaksanakan dalam bentuk survei berskala nasional yang melibatkan responden dari berbagai lokasi dan latar belakang berbeda. Berikut rinciannya:

  • 1.220 individu, pengguna internet dan non-internet, di 34 provinsi di Indonesia
  • 1.033 bisnis dengan berbagai skala
  • 565 organisasi dan komunitas
  • 410 institusi atau pejabat pemerintah

Hasil survei ini memberikan gambaran seberapa besar dampak Facebook di berbagai sektor di Indonesia. Mulai dalam hal pertukaran informasi antar individu, pertumbuhan bisnis, hingga sektor pemerintahan.

“Facebook ada di Indonesia untuk meningkatkan semangat agar melaju bersama di era digital melalui berbagai program, inisiatif, dan kemitraan. Dengan demikian, tentu ada dampak sosial dan ekonomi yang luas pula,” ucap Vice President Facebook untuk Asia Tenggara, Benjamin Joe, menyikapi studi tersebut.

Saat ini, situs statistik Statista menyatakan Facebook memiliki sekitar 130 juta pengguna aktif di Indonesia. Jumlah tersebut membuat ekosistem Facebook Indonesia menjadi salah satu pasar digital terbesar di dunia.

Mendukung pertumbuhan bisnis dan ekonomi

Survei yang dilakukan pada berbagai pelaku bisnis di Indonesia ini menghadirkan beberapa hal positif. Baik lewat platform Facebook itu sendiri, ataupun lewat Instagram dan WhatsApp, yang juga berada di bawah naungan Facebook.

Dalam ranah research and development misalnya, 76 persen responden menyatakan Facebook membantu mereka untuk memahami target pasar yang mereka incar. Sementara 74 persen menggunakan Facebook untuk memahami profil kompetitor dan peta kompetisi di suatu industri.

Facebook juga menjadi media yang digunakan pelaku bisnis untuk memetakan mitra-mitra potensial mereka. Ada 80 persen pihak yang melakukan itu dan 90 persen lainnya menggunakan Facebook untuk mempersiapkan arah pengembangan produk ke depannya.

Dalam ranah research and development misalnya, 76 persen responden menyatakan Facebook membantu mereka untuk memahami target pasar yang mereka incar. Sementara 74 persen menggunakan Facebook untuk memahami profil kompetitor dan peta kompetisi di suatu industri.

Facebook juga menjadi media yang digunakan pelaku bisnis untuk memetakan mitra-mitra potensial mereka. Ada 80 persen pihak yang melakukan itu dan 90 persen lainnya menggunakan Facebook untuk mempersiapkan arah pengembangan produk ke depannya.

Sementara untuk urusan sales dan marketing, Facebook masih menjadi senjata utama untuk memasarkan produk, dengan persentase 97 persen. 86 persen dari responden juga memanfaatkan Facebook untuk memelihara consumer loyalty.

Sosial media buatan Mark Zuckerberg ini juga dipercaya sangat efektif menjaring pengguna baru pada suatu bisnis. Ada 86 persen responden menyatakan hal tersebut. Salah satunya adalah raksasa teknologi Indonesia, Gojek. 

Gojek mempertahankan angka pertumbuhan pengguna baru mereka dengan menjalankan berbagai iklan maupun kampanye berbayar di Facebook. 

Perusahaan juga bisa melakukan A/B testing, yaitu menjalankan beberapa variasi materi iklan dengan pendekatan berbeda untuk grup lain, dan memperoleh metrik terperinci yang memungkinkan mereka menilai pendekatan marketing mana yang lebih efektif.

Dengan melakukan ini, Gojek telah dapat mengoptimalkan pengeluaran iklan online mereka. Membuat langkah-langkah periklanannya lebih hemat biaya, serta membantu Gojek menjaga agar pengeluaran tetap kompetitif. Pihak Gojek juga menyatakan, strategi ini menyumbang sebagian besar pengguna baru bulanan mereka serta mendorong peningkatan transaksi dari pengguna yang sudah ada.

Bank Rakyat Indonesia juga memanfaatkan Facebook untuk memperkuat layanannya. Tahun 2018 lalu BRI merilis customer service berbasis kecerdasan buatan yang diberi nama Smart BRI New Assistan (SABRINA), yang tersedia di Facebook Messenger dan WhatsApp. 

Belum setahun semenjak dirilis, SABRINA telah membantu melayani 150.000 pelanggan BRI setiap bulannya. Di platform WhatsApp, SABRINA telah memfasilitasi 500.000 agen BRILink dalam menangani kebutuhan konsumen. Seperti aktivasi pengguna baru, registrasi kartu kredit dan asuransi, hingga one-time password (OTP).

Selain beberapa paparan di atas, responden juga menjelaskan berbagai manfaat lain dari sudut pandang bisnis, seperti:

  • Memperkuat brand awareness (76 persen)
  • Pengumpulan feedback konsumen (94 persen)
  • Meningkatkan angka pengunjung offline shop (75 persen)
  • Meningkatkan efisiensi operasional (77 persen)
  • Menjaring pelanggan dari luar kota (68 persen)
  • Menjaring pelanggan dari luar negeri (16 persen)

Memfasilitasi komunitas untuk berkembang

Lewat teknologi, Facebook menjadi jembatan untuk individu dengan minat dan kebutuhan yang sama untuk saling terhubung dan berinteraksi. Hal ini membuat pertukaran informasi menjadi lebih cepat dan proses memperluas relasi pertemanan menjadi mudah.

dampak facebook indonesia | 2

Hal itu tercermin dari 81 persen responden yang mengaku, Facebook membantu mereka untuk terhubung dengan orang-orang baru yang memiliki minat yang sama. Dan 63 persen menyatakan tertarik untuk terhubung dengan yang mereka memiliki minat maupun ketertarikan yang berbeda.

Hal ini menjadikan Facebook sebagai salah satu media yang memfasilitasi suatu komunitas untuk tumbuh, atau bahkan mendorong lahirnya komunitas baru. Salah satu contohnya adalah Depok24jam, sebuah media online yang fokus membagikan informasi tentang kota Depok.

Digagas pada September 2017, Depok24jam lahir dari kebutuhan warga Depok mengenai berita terbaru tentang daerah mereka. Kebutuhan tersebut kemudian disikapi founder Depok24jam untuk menghadirkan sebuah wadah online di mana warga Depok bisa berbagi informasi terbaru.

Kini, Depok24jam telah dikelola secara profesional dan memiliki lebih dari 211.000 follower di Instagram. 

“Satu post Depok24jam di Instagram bisa mendapat lebih dari 700 komentar. Angka tersebut menunjukan tingginya partisipasi komunitas warga Depok (secara online),” jelas Maritsa Hakim selaku Chief Marketing Office Depok24jam.

Contoh lainnya, komunitas Guru Belajar Denpasar yang digagas oleh Jentina pada tahun 2017. Berawal dari sebuah Facebook Group, kini komunitas guru pengajar tersebut telah memiliki lebih dari 1.000 anggota dari seluruh Indonesia. 

Memanfaatkan teknologi dan semangat komunitas, Guru Belajar Denpasar menjadi wadah bagi para guru untuk bertukar ide, wawasan, dan pengalaman seputar dunia edukasi. Kini, selain Facebook Group mereka juga memanfaatkan Instagram dan Whatsapp Group.

Apa yang dilakukan Depok24jam dan Guru Belajar Denpasar adalah memanfaatkan peran Facebook dalam kehidupan sehari-hari. Ini lantaran jenis konten yang dicari masyarakat di Facebook memang beragam. Hasil riset PwC menyebutkan pengguna Facebook banyak mencari:

  • Berita terbaru (82 persen)
  • Informasi produk yang ingin dibeli (69 persen)
  • Informasi kesehatan dan medik (60 persen)
  • Halaman resmi publik figur (53 persen)
  • Institusi pemerintah (47 persen)
  • Lowongan pekerjaan (46 persen)

Selain hal-hal di atas, Facebook juga berdampak pada tumbuh kembang komunitas di Indonesia. Facebook banyak berperan pada:

  • Membantu meningkatkan isu atau kampanye sosial yang digagas oleh komunitas (94 persen)
  • Menjembatani kolaborasi komunitas dengan Non-governmental organization (NGO) (93 persen)
  • Membantu komunitas mendapat sorotan dari media (91 persen)
  • Membantu komunitas menerima suntikan dana dari donor (87 persen)
  • Membantu komunitas bekerja sama dengan pemerintah (52 persen), dan
  • Membantu komunitas bekerja sama dengan pebisnis/ pelaku industri (44 persen).

Membantu pemerintah memberi layanan yang efektif

Visi pemerintah Indonesia hingga tahun 2024 mencakup rencana untuk mereformasi birokrasi agar pemerintah lebih gesit, meningkatkan iklim dan fasilitas investasi, dan juga mengembangkan sumber daya manusia. Digitalisasi menjadi salah satu kunci untuk mencapai visi yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo tersebut.

  • membantu meningkatkan efektivitas komunikasi dan koordinasi pemerintah (92 persen),
  • meningkatkan tingkat partisipasi publik (86 persen), hingga
  • memahami berbagai isu yang tengah hangat di masyarakat (86 persen).

Menurut 410 pejabat di lembaga pemerintah di tingkat nasional, provinsi hingga kota, Facebook dan berbagai platformnya punya andil yang penting sejauh ini.  Mulai dari;

Sebanyak 94 persen mengatakan kalau Facebook dan Instagram memungkinkan pemerintah untuk menghadirkan layanan yang lebih terbuka dan transparan. Hal ini bisa meningkatkan tingkat kepercayaan publik kepada pemerintah.

Seperti yang dilakukan Pemerintah Kota Ambon. Mereka berkoordinasi  menggunakan WhatsApp Group. Di grup tersebut, para pejabat daerah (termasuk walikota) mendiskusikan isu ataupun permasalahan kota, dan segera menghadirkan solusi yang bisa diimplementasikan.

Lain hal dengan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Mereka telah aktif memanfaatkan Facebook sejak 2014 untuk memproduksi konten yang mendorong akademisi untuk mengirimkan karya mereka ke jurnal akademik terakreditasi nasional, seperti ke Sinta Arjuna Garuda.

Upaya ini menarik respons yang luar biasa, termasuk dari mereka yang tinggal di daerah terpencil. Sekarang, ada sekitar 31.000 publikasi online. Terjadi peningkatan yang luar biasa dari hanya 8.000 publikasi pada tahun 2015.

dampak facebook indonesia | 3

Facebook juga dinilai membantu pemerintah Indonesia dalam menangani situasi krisis seperti bencana alam. Dalam konteks ini, institusi pemerintah di semua tingkatan setuju bahwa teknologi yang dihadirkan Facebook berguna untuk masing-masing tujuan berikut:

  • Memperoleh lebih banyak informasi tentang daerah yang terkena dampak (58 persen)
  • Memberi tahu kerabat dari orang yang terkena dampak (53 persen) 
  • Menemukan korban yang terkena dampak (52 persen), dan 
  • Menghubungkan korban dengan dukungan darurat layanan (56 persen)

Salah satu contoh kasus ketika gempa bumi terjadi di Palu, Sulawesi Tengah pada September 2018 lalu. Sebagai bentuk bantuan, WhatsApp dan UNICEF bermitra untuk mempromosikan platform U-Report menggunakan aplikasi Facebook.

U-Report sebelumnya hanya digunakan dalam bentuk pesan teks untuk menyaring pendapat orang tentang UNICEF dan mitra program LSM. UNICEF kemudian memanfaatkan iklan Facebook untuk mensosialisasikan U-Report tersebut.

Hasilnya, lebih dari 3.500 orang mendaftar ke U-Report melalui WhatsApp dalam waktu 48 jam. Dan tiga kebutuhan utama mereka bisa segera diklasifikasi, seperti makanan (38 persen), keselamatan keluarga (13 persen), dan tempat tinggal (11 persen).

Facebook juga mengembangkan Disaster Maps yang bisa membagikan informasi secara real-time di Indonesia.

Disaster Maps ini bisa membantu berbagai pihak untuk menentukan hal-hal krusial, seperti apakah masyarakat di area bencana memiliki akses ke jaringan listrik dan seluler. Apakah mereka telah berhasil dievakuasi, hingga layanan serta persediaan apa yang paling mereka butuhkan.

Sumber : Tech in Asia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *