News

Daftar 20 Asia’s Power Business Women 2021, Ada 2 dari Indonesia

Berikut daftar 10 wanita yang masuk ke dalam 10 Asia’s Power Business Women 2021 versi Forbes

Semua wanita yang disorot tahun ini merupakan pendatang baru dalam daftar yang juga memperluas jaringan wanita bisnis di wilayah tersebut. Dalam daftar ini, mereka dipilih atas pencapaian mereka dalam mengelola bisnis dengan pendapatan yang cukup besar atau startup senilai lebih dari US$100 juta. Kemudian, peran kepemimpinan ini mencakup hampir seluruh industri yang mencakup perbankan, ekuitas swasta, manufaktur, perawatan kesehatan dan teknologi. Lebih lengkapnya, berikut daftar 10 wanita yang masuk ke dalam 10 Asia’s Power Business Women 2021

1.Marina Budiman

Umur : 60
Asal : Indonesia
Cofounder and president commissioner, DCI Indonesia.
Marina mendirikan DCI pada 2011 bersama enam orang lainnya. Kemudian, mereka mendapatkan ledakan digital di Indonesia dimana perusahaan membukukan kenaikan pendapatan sebesar 81 persen dan peningkatan laba 27 persen secara gabungan dalam tiga tahun terakhir. Saham Marina di perusahaan bernilai lebih dari $1 miliar.

2. Cao Xiaochun

Umur: 52
Asal : China
Cao mendirikan perusahaan medis Hangzhou Tigermed Consulting pada tahun 2004 dengan Ye Xiaoping, dimana perusahaannya telah tumbuh menjadi salah satu penyedia layanan penelitian dan uji klinis terbesar di China. Perusahaan ini memiliki kapitalisasi pasar sebesar US$23 miliar, dan Cao bernilai US$1,6 miliar pada akhir Oktober.

3. Keiko Erikawa

Executive chairman, Koei Tecmo
Umur: 72
Asal: Jepang
Erikawa dan suaminya Yoichi yang merupakan CEO, mendirikan Koei Tecmo dan membangun menjadi salah satu pengembang video-game terbesar di Jepang selama empat dekade. Perusahaan yang terdaftar sekarang memiliki kapitalisasi pasar sebesar US$8,5 miliar. Koei Tecmo juga telah melaporkan rekor laba bersih 11 tahun berturut-turut, dengan pendapatan US$262 juta dari penjualan US$534 juta untuk tahun fiskal yang berakhir Maret.

4. Meena Ganesh

Cofounder and chairperson, Portea Medical
Umur: 58 Asal: India
Pengusaha serial Ganesh yang juga mendirikan Poetra Medical, perusahaan home healthcare terbesar di India berdasarkan pendapatan, dan menjadi ketua pada bulan Agustus. Sebelumnya dirinya juga menjalankan perusahaan berusia delapan tahun yang berbasis di Bangalore sebagai direktur pelaksana dan CEO. Pendapatannya diperkirakan akan tumbuh 30 persen menjadi 1,8 miliar rupee (US$25 juta) untuk tahun yang berakhir pada bulan Maret 2022.

5. Eiko Hashiba

Founder and CEO, VisasQ
Umur: 43
Asal: Jepang
Eiko, mendirikan VisasQ pada tahun 2012 yakni untuk mencocokkan pakar independen untuk penugasan sementara dengan perusahaan, dari sebuah konsultasi selama satu jam hingga konsultasi untuk proyek besar. Pada tahun 2020 di Tokyo, harga saham VisasQ telah meningkat empat kali lipat, memberikan kapitalisasi pasar sebesar US$471 juta dan dilaporkan bernilai lebih dari US$240 juta.

6. Jo Horgan

Founder and co-CEO, Mecca Brands
Asal: Australia
Horgan mendirikan Mecca Brands sebagai toko kecantikan multimerek di Melbourne pada tahun 1997. Kini, perusahaannya menjadi pengecer kosmetik terbesar berdasarkan penjualan di pasar ritel kosmetik dan perlengkapan mandi Australia senilai US$3,2 miliar, menurut peneliti IBISWorld.

7. Judy Hsu

CEO for Consumer, Private and Business Banking, Standard Chartered Bank
Umur: 58
Asal: Singapura
Bankir veteran Hsu ditunjuk pada bulan Januari sebagai CEO perbankan konsumen, swasta dan bisnis di Standard Chartered. Hsu mengatakan dia berencana untuk menggunakan analitik data dan AI untuk menargetkan demografi yang lebih muda saat mereka tumbuh lebih kaya. Dengan 85 persen transaksi kekayaan bank telah dilakukan secara digital, bank terus berinvestasi besar-besaran dalam digitalisasi sejak penunjukan Hsu.

8. Kim Seon Hee

CEO, Maeil Dairies
Umur: 57
Asal: Korea Selatan
Di Korea Selatan, Kim telah mengembangkan Maeil Dairies yakni untuk membuat produk susu untuk bayi dan anak kecil, dan menjadi perusahaan susu terbesar di negara itu berdasarkan kapitalisasi pasar. Dengan nilai sekitar US$470 juta, nilai pasar Maeil Dairies lebih dari 50 persen lebih besar dari Namyang Dairy Products, pesaing domestik terdekatnya.

9. Teresa Ko

China chairman, Freshfields Bruckhaus Deringer
Umur: 61
Asal: Hong Kong
Pada tahun 2011, Ko diangkat sebagai ketua China di Freshfields Bruckhaus Deringer, salah satu firma hukum internasional tertua, terbesar dan paling bergengsi di dunia. IPO terbesarnya hingga saat ini adalah daftar perusahaan asuransi pan-Asia AIA Group senilai US$20,5 miliar pada tahun 2010, penawaran terbesar ketiga di dunia pada saat itu.

10. Takayo Kotani

President, Yushin Precision Equipment
Umur: 44
Asal: Jepang
Cukup jarang untuk menemukan CEO Wanita di Jepang dan memimpin sebuah perusahaan di industri manufaktur. Keluarga Kotani menguasai hampir 50 persen saham di perusahaan yang terdaftar. Pada tahun fiskal terbaru hingga Maret, Yushin membukukan pendapatan sekitar US$170 juta dan margin laba operasional hampir 14 persen.

11. Lee In-Kyung

Partner, MBK Partners
Umur: 53 tahun
Asal: Korea Selatan
Lee adalah mitra wanita pertama MBK dalam 16 tahun sejarah perusahaan, dan satu-satunya wanita di antara 13 mitra saat ini. Menurut firma riset Preqin, hanya 4,6 persen karyawan senior di perusahaan ekuitas swasta di Korea adalah wanita. Dirinya bergabung dengan MBK pada tahun 2006 setahun setelah didirikan dan ketika itu hanya memiliki US$1,6 miliar di AUM.

12. Janice Lee

CEO, Viu
Umur: 51 Tahun
Asal: Hong Kong
Viu telah melampaui Netflix untuk menjadi layanan streaming terbesar kedua dengan pelanggan berbayar di Asia, hanya di belakang Disney+, menurut peneliti Media Partners Asia. Viu mengklaim memiliki hampir 50 juta pengguna aktif bulanan di seluruh Asia, Timur Tengah dan Afrika Selatan pada Juni. Lee mengatakan popularitas Viu adalah karena menawarkan konten yang memiliki daya tarik luas di berbagai pasar Asia yang digabungkan dengan rencana harga lokal.

13. Winnie Lie

Cofounder and COO, Appier
Umur: 41
Tahun Asal: Taiwan
Lee adalah salah satu pendiri dan chief operating officer Appier, salah satu dari dua perusahaan unicorn Taiwan dan yang pertama go public. Perusahaan AI yang berbasis di Taipei, dimana pendukungnya termasuk Sequoia Capital, SoftBank dan Temasek’s Pavilion Capital.

14. Farah Malik Bhanji

Managing director, Metro Brands
Umur: 45 tahun
Asal: India
Malik Bhanji menjalankan Metro Brands, yakni pengecer alas kaki terbesar keempat di India berdasarkan pendapatan, dengan lebih dari 10 merek internal dan lebih dari 25 merek pihak ketiga. Malik Bhanji kemudian meningkatkan penjualan online melalui situs web perusahaan, pasar online, dan platform media sosial. Penjualan online tumbuh 87 persen tahun-ke-tahun.

15. Ng Gim Choo

Founder, EtonHouse
Umur: 69
Asal: Singapura
Ng mendirikan operator sekolah swasta EtonHouse 26 tahun lalu dengan tujuan untuk membuat belajar menjadi menyenangkan. Saat ini, EtonHouse memiliki lebih dari 20.000 mahasiswa di 130 kampus di 11 negara Asia. Hal ini menguntungkan dengan pendapatan tahunan yang diharapkan tahun ini naik 33 persen menjadi US$200 juta.

16. Maria Grace Y. UY

Cofounder and president, Converge ICT Solutions Umur: 53 tahun Asal: Filipina Uy mendirikan Converge ICT Solutions pada 2007 bersama suaminya Dennis Anthony. Pasangan ini membawa perusahaan itu ke publik pada akhir 2020 di salah satu IPO terbesar di negara itu, mengumpulkan $522 juta. Saham telah meningkat lebih dari 70%, mendorong kapitalisasi pasar Converge menjadi 233 miliar peso.

17. Wallapa Traisorat

President and CEO, Asset World Corp.
Umur: 47 Tahun
Asal: Thailand
Pada akhir 2019, AWC go public dan mengumpulkan hampir 47 miliar baht (US$1,6 miliar) yakni yang terbesar di Thailand saat itu. Dana tersebut kemudian digunakan perusahaan untuk mengakuisisi properti baru, melunasi hutang, dan melakukan renovasi. Walaupun pandemi memangkas tingkat hunian di hotel-hotel AWC menjadi 23 persen tahun lalu dari rata-rata 75 persen pada 2019, Wallapa yakin akan rebound pada akhirnya saat Thailand mengambil langkah untuk menghidupkan kembali pariwisata.

18. Nadiah Wan

Group CEO and executive director, TMC Life Sciences
Umur: 37 tahun
Asal: Malaysia
Wan memegang dua gelar CEO di perusahaannya. Dia adalah CEO grup dan direktur eksekutif TMC Life Sciences. Dirinya juga menjadi CEO. Thomson Hospital Kota Damansara, posisi yang dia pegang sejak 2017. Wan memperkenalkan gugus tugas Covid-19 di rumah sakit dan meluncurkan aplikasi seluler, menyediakan perawatan pasien dari jarak jauh dan janji temu, dan lain-lainnya.

19. Tessa Wijaya

COO, Xendit
Umur: 40 tahun
Asal: Indonesia
Wijaya bergabung dengan startup pembayaran Xendit pada tahun 2016. Pada tahun 2018, ia menjadi chief operating officer sekaligus mendapatkan gelar cofounder. Xendit menjadi unicorn pada bulan September setelah mengumpulkan US$150 juta dalam pendanaan seri C yang dipimpin oleh Tiger Global Management. Dari Januari hingga September tahun ini, startup Xendit membukukan total volume pembayaran sebesar US$10 miliar, naik hampir empat kali lipat dari periode yang sama tahun lalu.

20. Helen Wong

Group CEO, OCBC
Umur: 60 tahun
Asal: Singapura
Wong adalah wanita pertama yang memimpin Oversea-Chinese Banking Corp. (OCBC) yang berusia 89 tahun, bank terbesar kedua di Singapura berdasarkan nilai pasar. Dirinya memulai perbankan di OCBC pada tahun 1984 dan kemudian bergabung dengan bank lain. Pada Februari 2020, Wong kembali ke OCBC sebagai wakil presiden dan kepala perbankan grosir global yang berbasis di Singapura, setelah menghabiskan 17 tahun di HSBC. Pengalamannya di China menjadi pertanda baik bagi OCBC, yang telah berkembang di ekonomi terbesar kedua di dunia.

Sumber : Bisnis.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *