News

Apa Itu Clubhouse? Aplikasi Media Sosial Baru yang Dipopulerkan Elon Musk

Dalam beberapa pekan terakhir, aplikasi media sosial Clubhouse menuai popularitas. Penyebabnya tak lain karena orang terkaya di dunia Elon Musk menggelar sesi diskusi langsung bersama penggemarnya pada awal bulan ini.

Dalam sesi diskusi online yang berlangsung pada 2 Februari 2021 di aplikasi itu, Elon Musk membicarakan berbagai hal, mulai dari pandangannya soal koloni manusia di Mars, apakah alien ada, perkembangan startup neuroteknologi Neuralink yang bisa bikin monyet main video game, Dogecoin, rasa bangganya menjadi meme dealer di Twitter, hingga mewawancarai CEO Robinhood soal kontroversi pembatasan pembelian saham GameStop.

Dari sesi diskusi ‘ngalor-ngidul’ yang berlangsung 1,5 jam lebih itu, Musk bisa mendapat 5 ribu pengunjung room. Jumlah tersebut melebihi kapasitas yang disediakan Clubhouse, sampai-sampai sejumlah penggemarnya perlu merekam sesi diskusi dan meng-upload-nya ke YouTube, agar penggemar lain yang tidak bisa masuk tetap bisa mendengar celotehan Musk.

Mengenal aplikasi Clubhouse

Lalu, sebenanya apa sih Clubhouse itu? Clubhouse adalah media sosial berbasis audio. Kalau Clubhouse sendiri, sih, dalam situsnya mengklaim diri mereka sebagai “jenis produk sosial baru berdasarkan suara yang memungkinkan orang di mana saja untuk berbicara, bercerita, mengembangkan ide, memperdalam persahabatan, dan bertemu orang baru yang menarik di seluruh dunia.”

Aplikasi ini didirikan oleh Paul Davison dan Rohan Seth pada 2020. Pada Mei di tahun yang sama, valuasinya sudah mencapai sekitar 100 juta dolar AS meskipun hanya memiliki 1.500 pengguna saat itu, menurut CNBC.

Perkembangan aplikasi ini bisa dibilang cepat karena pada di bulan Desember 2020, The New York Times melaporkan, Clubhouse telah punya 600 ribu pengguna. Adapun per 1 Februari 2020, ia telah memiliki 2 juta pengguna.

Baru tersedia di iPhone

Sama seperti kebanyakan media sosial lain, Clubhouse bisa di-download di toko aplikasi seperti App Store secara gratis. Namun, untuk pengguna Android, sayangnya aplikasi ini belum tersedia di Google Play Store.Uniknya, orang biasa enggak bisa daftar akun Clubhouse begitu saja. Pengguna Clubhouse sejauh ini masih eksklusif pada seleb dan pesohor saja. Branding eksklusivitas inilah yang membedakan Clubhouse dengan media sosial lain.

Nah, buat orang biasa sendiri, cuma bisa gabung sesi diskusi saja. Nantinya, para seleb dan pesohor itu yang bakal mengundang kamu untuk masuk ke room diskusi mereka.Kendati demikian, Clubhouse mengindikasikan bahwa mereka akan membuka kesempatan lebih lebar buat orang biasa jadi pengguna aplikasinya. “Kami membangun Clubhouse untuk semua orang dan berupaya membuatnya tersedia untuk dunia secepat mungkin,” demikian bunyi situs aplikasi tersebut.

Di saat yang bersamaan, Clubhouse juga telah mengumumkan fitur-fitur baru yang akan datang di platform mereka, seperti tip, tiket, atau langganan, untuk membayar kreator secara langsung di aplikasi. Setelah mengumpulkan pendanaan baru sejak diluncurkan, Clubhouse kini bernilai 1 miliar dolar AS, menempatkannya sebagai startup unicorn seperti AirBnb, Uber, dan SpaceX.

Populer di China

Menurut laporan Reuters, permintaan untuk menjadi pengguna Clubhouse sekarang begitu tinggi sampai pasar untuk mereka tumbuh di platform seperti Reddit, eBay, dan Craigslist. Di China, undangan ke Clubhouse dijual di pasar bekas Alibaba, Idle Fish.

Adapun menurut laporan The Guardian, situs e-commerce di China seperti Xianyu dan Taobao menawarkan kode undangan yang dijual dengan harga antara 150 – 400 yuan atau sekitar Rp 350 hingga 867 ribu.

Meski Clubhouse mendapat sorotan dunia berkat celotehan Musk, perkembangannya yang paling besar dilaporkan ada di China.

Dengan sensor dan kontrol pemerintah yang tersebar luas di negara itu, dan juga blokir jaringan media sosial lainnya seperti Instagram dan Facebook, tak heran Clubhouse sangat diminati di sana. Menurut laporan Quartz, pengguna China tersebut sebagian besar merupakan investor dan profesional teknologi. Mereka menggunakan aplikasi ini sebagai ruang untuk berbicara tentang topik yang jika tidak akan disensor di negara asal, seperti demokrasi.

Sumber : Kumparan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *